Senin, 08 Oktober 2012

Sepenggal Kisah Pendekar Australia Berguru pada Ki Djojosoewito



Tanggal : 08-08-2012 17:22, .
Sepenggal Kisah Pendekar Australia Berguru pada Ki Djojosoewito

Tulisan ini merupakan terjemahan dari bagian awal Thesis Doktoral Ian Douglas Wilson dari Murdoch University, Western Australia yang disusun tahun 2002 berjudul ‘Politics of Inner Power: The Practice of Pencak Silat in West Java”. Meski judulnya tentang praktek pencak silat di Jawa Barat, namun Ian di bagian awal menuliskan pengalaman berguru secara intensif kepada Ki Djojosoewito selama enam bulan pada tahun 1993.

Saat ini Ian menjabat Dosen dan Researcher di Murdoch University, Perth, Australia. Ia masih sering ke Indonesia. November 2012 nanti ia akan datang lagi ke Indonesia.

Studi tentang pencak silat yang saya lakukan ini bermula dari pengalaman pribadi saya mulai tahun 1993. Pada waktu itu saya menunda kuliah saya untuk mengunjungi Jawa dan Sumatera Barat. Minat saya terhadap bahasa dan budaya Indonesia, begitu juga beladiri, membawa saya menemukan perguruan pencak silat Indonesia di Perth dimana saya kemudian belajar selama beberapa bulan. Tergerak untuk mengetahui lebih jauh lagi seni beladiri ini, yang tidak seperti seni beladiri Jepang, Cina dan Korea, banyak belum diketahui di luar Asia Tenggara, saya memutuskan untuk berlatih ke Indonesia.
Setiba di Yogyakarta, saya menanyakan ke seorang tukang becak apakah ia dapat membawa saya ke suatu perguruan pencak silat. Menyusuri gang sempit masuk dari jalan raya yang padat, kami sampai di pekarangan kecil yang teduh dengan jajaran pohon pisang dan pohon rambutan. Di sana nampak sekitar 20 anak muda sedang bertekun latihan secara seragam rangkaian gerakan tendangan, tangkisan dan pukulan seakan bertarung dengan bayangan lawan, di bawah pengawasan seorang lelaki tua yang mengenakan sarung yang memudar warnanya, celana komprang dan kaos. Pak Becak memberitahu saya bahwa beliau adalah Ki DJojosoewito, guru besar perguruan pencak silat Bhayu Manunggal. Pak Becak memperkenalkan saya kepada Ki Djojo. Setelah menghabiskan secangkir kopi, Ki Djojo berkenan menerima saya sebagai muridnya. Sesudah berhasil memperoleh visa kunjungan sosial-budaya dari kantor imigrasi setempat, saya mulai latihan intensif selama enam bulan di bawah bimbingan langsung Ki Djojo dan 2 pelatih senior.
Pada sekitar jam 6 pagi para murid datang ke pekarangan untuk berlatih. Berganti pakaian celana komprang dan baju lengan panjang warna hitam, pelajaran dimulai dengan menyapu pekarangan bertanah keras dengan sapu lidi dan menyiraminya dengan air untuk menghilangkan debu. Setelah selesai, para murid dan pelatih duduk bersila kaki kanan menumpang di atas kaki kiri, telapak tangan diletakkan di lutut, pandangan mata menatap ke bawah ke ujung hidung dan mulai meditasi hening selama sekitar 10 menit. Tujuan dari meditasi ini adalah untuk mengatur pernafasan dan membuat tubuh santai, sehingga batin-pikiran menjadi hening. Setelah selesai meditasi, para murid bersama-sama mengucapkan janji kesetiaan perguruan, Panca Setia, lalu memberikan hormat perguruan. Latihan fisik dimulai dengan peregangan dan pemanasan sekitar setengah jam, dilanjutkan dengan berbagai latihan loncat dan bergulung. Sesudah itu, dilatih langkah dan kuda-kuda dasar secara melingkar, dimana para pelatih membetulkan gerakan jika ada yang salah. Ki Djojo memperhatikan dari depan beranda rumahnya yang mengarah ke pekarangan tempat latihan, sesekali menunjuk gerakan yang salah atau memberi arahan kepada pelatih. Selanjutnya, para murid akan dikelompokkan berlatih terpisah berdasar tingkatannya. Gerakan dasar tangan dan kaki, mencakup berbagai gerakan menangkis, menyerang dan menghindar, dilatih terlebih dahulu secara berurutan, dan diulang lagi dengan berbagai kombinasi yang makin banyak dan rumit. Murid yang sudah lebih tinggi tingkatannya membuat lingkaran besar di tanah dengan delapan sumbu, dan kemudian dilanjutkan dengan membuat kembangan, sekali kembangan dalam satu garis sumbu. Sesudah ini, dilakukan latihan sabung dimana murid mengenakan pelindung badan. Latihan berakhir dengan melakukan meditasi dan mengucapkan Panca Setia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar